JAKARTA – Pergerakan pasar saham global pada awal pekan ini diwarnai oleh aksi kewaspadaan tingkat tinggi menyusul memanasnya konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan ini dengan cepat merambat dan memberikan tekanan pada bursa saham di kawasan Asia Pasifik, tak terkecuali Indonesia. Pada penutupan perdagangan Selasa (7/4/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpaksa menyerah di zona merah, tertekan oleh gelombang pelarian modal asing (capital outflow) dan kekhawatiran akan krisis pasokan energi.
Gelombang Ketidakpastian dari Timur Tengah
Sejalan dengan berbagai ringkasan perdagangan pasar global, sentimen utama yang memicu kegelisahan investor adalah sinyal dari Presiden AS, Donald Trump, terkait potensi serangan lanjutan ke fasilitas strategis Iran. Hal ini memicu spekulasi akan terganggunya jalur pelayaran minyak vital di Selat Hormuz.
Kondisi ini membuat pelaku pasar global mengambil langkah defensif. Menjelang rilis data inflasi penting dari Amerika Serikat dan Tiongkok pada pekan ini, investor memilih untuk melepas aset berisiko di negara berkembang dan beralih ke aset safe haven seperti emas dan dolar AS.
Dampak Langsung ke IHSG: Asing Tarik Dana Triliunan
Efek domino dari ketidakpastian global ini langsung menghantam pasar modal domestik. Pada 7 April 2026, IHSG ditutup melemah 0,26% ke level 6.971,03.
Tekanan terbesar datang dari investor asing yang mencatatkan aksi jual bersih (net sell) mencapai lebih dari Rp 1,78 triliun dalam sehari. Dari sisi sektoral, sektor perindustrian dan transportasi menjadi korban utama dengan penurunan tajam. Sebaliknya, sektor energi dan infrastruktur mencoba menjadi penopang indeks, didorong oleh ekspektasi lonjakan harga komoditas global akibat ancaman blokade energi.
Tameng Fiskal Domestik di Tengah Defisit
Di sisi domestik, pasar juga mencerna laporan Kementerian Keuangan terkait defisit APBN kuartal I-2026 yang telah menyentuh Rp240,1 triliun (0,93% dari PDB). Lebarnya defisit akibat belanja yang lebih cepat dari pendapatan ini sempat menjadi sentimen pemberat.
Namun, kepanikan pasar berhasil diredam sebagian oleh komitmen pemerintah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa telah memberikan sinyal kuat bahwa harga BBM bersubsidi akan dipertahankan demi menjaga daya beli masyarakat, meskipun dengan asumsi harga minyak mentah menembus USD 100 per barel.
Sikap 'Wait and See' Menjadi Pilihan Bijak
Bagi para pelaku pasar, kombinasi antara tensi geopolitik Timur Tengah dan pelemahan nilai tukar Rupiah menuntut strategi investasi yang ekstra hati-hati. Volatilitas tinggi diperkirakan akan terus membayangi pergerakan IHSG hingga ada kepastian deeskalasi konflik dan arah kebijakan suku bunga dari bank sentral global. Di tengah situasi ini, saham-saham berbasis komoditas dan emas (safe haven) dapat menjadi alternatif pelindung nilai portofolio.
Pantau terus pembaruan terkini mengenai pergerakan indeks dan analisis pasar modal yang mendalam, hanya di loogas.id.
