BBCA: 5,700 -0.87% BBRI: 2,950 -3.59% BMRI: 4,080 -0.97% BBNI: 3,700 -3.14% BBTN: 1,270 -4.87% ANTM: 2,900 -2.03% AMMN: 3,300 +13.01% MDKA: 2,590 -4.78% UNTR: 22,925 -1.19% HRUM: 790 -0.63% CUAN: 630 0.00% PTRO: 4,670 +19.74% TINS: 3,210 -1.83% ICBP: 7,100 +3.27% UNVR: 1,710 +4.91% AMRT: 1,150 +4.07% JPFA: 2,450 -3.16% INDF: 6,925 +1.47% TLKM: 3,030 +4.48% EXCL: 2,830 +2.17% ISAT: 2,160 +0.47% MTEL: 520 +4.00% TBIG: 1,525 +4.45% ASII: 5,000 +4.17% BIPI: 176 -1.68% BKSL: 75 0.00% GJTL: 1,215 -0.41% BREN: 3,300 0.00% BUMI: 168 0.00%
DATA PASAR DIPERBARUI: --:--:--
IHSG: 6,127 +0.24%
LQ45: 611 +0.21%
USD/IDR: Rp 17,879 +0.01%
EMAS: $4,519.30 -1.22%
PERAK: $75.56 -0.01%
BTC: $71,436.76 -2.90%
Otomotif

Beli Mobil Listrik Baru vs Tahan Mobil Tua: Bedah Finansial Total Cost of Ownership (TCO) 2026

Beli Mobil Listrik Baru vs Tahan Mobil Tua: Bedah Finansial Total Cost of Ownership (TCO) 2026
Sumber Foto: Sumber Foto Pina Media

JAKARTA – Penjualan mobil listrik (EV) di Indonesia terus meroket tajam pada tahun 2026. Di tengah gempuran model-model baru dengan harga yang semakin kompetitif, banyak pemilik kendaraan berbahan bakar bensin (Internal Combustion Engine/ICE) yang mulai bimbang. Apakah meminang mobil listrik tahun ini adalah langkah yang cerdas secara finansial, atau justru mempertahankan mobil lama yang sudah lunas adalah keputusan terbaik? Untuk menjawabnya, kita tidak bisa hanya berpatokan pada harga BBM versus tarif listrik. Kita harus membedahnya secara profesional menggunakan metrik Total Cost of Ownership (TCO) agar mendapatkan potret utuh mengenai arus kas yang sebenarnya.

1. Ilusi "Bebas Cicilan": CAPEX vs OPEX

Bagi seorang manajer yang terbiasa menangani laporan konsolidasi keuangan, keputusan investasi aset tidak boleh sekadar mengandalkan asumsi. Mempertahankan kendaraan operasional harian yang sudah berusia belasan tahun, seperti sebuah sedan Toyota Corolla Altis 2007 atau city car lawas layaknya Kia Visto, di atas kertas memang memberikan ilusi kebebasan finansial. Mengapa? Karena tidak ada pengeluaran modal (Capital Expenditure/CAPEX) yang besar untuk pembelian unit baru. Selain itu, garis depresiasi (penyusutan nilai) mobil lawas sudah sangat mendatar, sehingga penurunan harga jual kembalinya sangat minim.

Sebaliknya, membeli EV baru menuntut penguncian modal yang masif di awal. Sebagai contoh, rata-rata EV kompak keluaran 2026 berada di kisaran Rp350 juta hingga Rp400 juta. Pada tahun pertama pemakaian, kerugian dari depresiasi nilai EV bisa langsung menyentuh angka 15% hingga 20%. Jika hanya dinilai dari pos pembukuan penyusutan aset, menahan mobil konvensional yang sudah ada di garasi adalah kemenangan mutlak.

2. Jurang Biaya Operasional: BBM vs Listrik

Namun, mobil lawas akan mulai "memakan" neraca keuangan Anda secara perlahan melalui pengeluaran operasional hariannya (Operational Expenditure/OPEX). Mesin konvensional generasi lama, terutama untuk sedan bermesin 1.8L seperti Altis, rata-rata mencatatkan konsumsi BBM di angka 1:10 km/liter untuk rute macet dalam kota. Dengan asumsi jarak tempuh tahunan sekitar 15.000 km dan penggunaan bensin beroktan 92 (Rp13.000/liter), biaya BBM yang harus dibakar mencapai Rp19,5 juta per tahun.

Mari kita komparasikan dengan efisiensi EV masa kini yang rata-rata mampu mencatatkan angka 7 km/kWh. Untuk jarak tempuh yang sama (15.000 km), sebuah EV hanya membutuhkan sekitar 2.142 kWh energi. Jika Anda menggunakan fasilitas home charging dengan tarif dasar listrik Rp1.700/kWh, biaya tahunannya hanya berada di kisaran Rp3,6 juta. Terdapat efisiensi OPEX sebesar nyaris Rp16 juta per tahun yang bisa menyelamatkan likuiditas bulanan Anda.

3. Beban Pajak, Perawatan, dan Asuransi

Faktor TCO berikutnya adalah biaya pemeliharaan. Mobil konvensional yang telah melewati usia 10 tahun adalah bom waktu untuk tagihan perbaikan. Selain perawatan fast-moving seperti oli mesin dan transmisi yang wajib diganti rutin, komponen slow-moving mulai aus. Peremajaan sektor suspensi, penggantian kompresor AC, hingga overhaul sistem pendingin bisa memakan biaya belasan juta rupiah. Pajak tahunannya (PKB) pun masih menjadi beban tetap.

Di sisi lain, rezim pajak EV di Indonesia saat ini sangat meringankan beban, di mana pemilik praktis hanya membayar sumbangan wajib (SWDKLLJ) sekitar Rp143 ribu per tahun. Perawatan rutin EV pun sangat minimalis—tanpa busi, tanpa oli mesin, dan tanpa timing belt.

Meski demikian, ada satu biaya tersembunyi pada EV: Asuransi Komprehensif. Karena harga komponen baterai mendominasi struktur nilai mobil listrik (bisa mencapai 40% dari harga mobil), premi asuransi mobil listrik umumnya 15% hingga 20% lebih mahal dibandingkan asuransi untuk mobil bensin di kelas harga yang sama.

Kesimpulan: Siapa yang Harus Pindah ke EV?

Jika seluruh proyeksi finansial ini ditarik ke dalam simulasi TCO 5 tahun, kesimpulannya sangat lugas dan berbasis data matematis. Transisi ke mobil listrik tahun ini hanya masuk akal secara finansial (break-even) jika mobilitas harian Anda sangat tinggi, yakni di atas 70 km per hari. Tingginya OPEX yang dihemat dari sektor energi akan mampu menutupi kerugian depresiasi dan tingginya harga beli EV di awal.

Sebaliknya, jika rutinitas harian Anda tidak memakan banyak kilometer, dan mobil operasional seperti Kia Visto atau Corolla Altis Anda lebih sering terparkir dan hanya digunakan untuk mobilitas jarak dekat atau akhir pekan, maka mempertahankan mobil konvensional tersebut adalah keputusan yang jauh lebih sehat secara akuntansi. Menahan aset lama dalam skenario mobilitas rendah akan menjaga likuiditas kas Anda tetap aman dari gempuran penyusutan aset baru.


Daftar Referensi & Sumber Kredibel:

  1. Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia): Laporan Analisis Komparasi Konsumsi Energi Tipe EV vs ICE di Pasar Domestik (2026).

  2. Kementerian Keuangan RI & Bapenda: Regulasi Insentif Fiskal dan Pembebasan Pajak Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai.

  3. Institute for Development of Economics and Finance (INDEF): Kajian Proyeksi Total Cost of Ownership (TCO) Kendaraan Pribadi Era Transisi Energi.

  4. PT PLN (Persero): Struktur dan Penyesuaian Tarif Tenaga Listrik untuk Keperluan Pengisian Kendaraan Listrik (Home Charging & SPKLU).